Minta Maaf ke Warga Muhammadiyah, Parosil Mabsus: Saya Malu

Ilo
Ilo | Politik
oleh

BANDAR LAMPUNG – Mantan Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus mendatangi Kantor Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Lampung, Selasa (15/8).

Di tempat itu, Ketua DPC PDIP Lampung Barat ini menyampaikan permohonan maaf terkait ucapannya ‘jangan pilih PAN dan PKS’ di salah satu acara pengkaderan Nahdlatul Ulama (NU) belum lama ini.

“Sekali lagi saya atas nama pribadi, keluarga, memohon maaf kepada Ketua PW Muhammadiyah, pemuda dan keluarga besar Muhammadiyah,” kata Parosil di depan Wakil Ketua PW Muhammadiyah Fauzi Fattah, kader senior, pemuda, hingga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Pria yang karib disapa Mang Cik ini berharap permintaan maafnya dapat diterima dengan tulus.

“Jujur saya saya sampaikan, saya malu bisa begini. Saya setiap kegiatan di pemerintahan paling pantang membedakan kelompok, saat menyampaikan materi itu, saya terucap kata kata yang tidak tepat. Saya mohon maaf,” bebernya.

Selain itu, Parosil segera mengagendakan pertemuan dengan PAN dan PKS untuk menjalin silaturahmi dan meminta maaf.

Pada kesempatan itu, Wakil Ketua Muhammadiyah Fauzi Fattah menyerahkan buku “Moderasi Beragama Sudut Pandang Orang Muhammadiyah” sebagai bahan bacaan bagi Parosil.

Fauzi juga mengatakan, ucapan Parosil jangan gabung PAN karena Muhammadiyah dan PKS itu biasa, tapi karena diucapkan di depan kader Nahdlatul Ulama (NU) sehingga seakan-akan bertolak dan mengadu domba kader NU dan Muhammadiyah.

“Masalah yang sudah terlanjur, laporan IMM ke polda, di Muhammadiyah kolektif kolegial, dan harus berdasarkan keputusan bersama dan pleno, tidak boleh hanya diputuskan oleh seseorang kendati itu ketua,” katanya.

Sehingga, persoalan tersebut akan dibahas lagi oleh IMM lewat rapat pleno, pertimbangannya bahwa Muhammadiyah telah menerima permintaan maaf Parosil.

Sebelumnya IMM melaporkan Parosil Mabsus ke Polda Lampung terkait ujaran kebencian.

Sebab, karena ucapannya pada kader NU, Parosil dinilai telah mengadu domba antara warga Muhammadiyah dan warga NU.(rmol)