Jadi Otak Perusakan, Ketua KONI Pesawaran Dijeblos ke Bui

Ilo
Ilo | Hukum
oleh

BANDAR LAMPUNG menetapkan Ketua KONI Pesawaran, Sonny Zainhard Utama sebagai tersangka dalam kasus perusakan pagar oleh . Ia pun ditahan, Jumat (10/3).

Kasubbid pennmas , AKBP Rahmat Hidayat didampingi Kasubdit 2 Ditreskrimum Polda Lampung, Kompol Sendi Antoni mengatakan, kronologis perusakan pagar oleh Sonny Zainhard terjadi pada Sabtu (24/12/2021) lalu.

Perusakan tersebut terjadi pada sebuah pagar di sebuah lahan dengan luas sekitar 900 m persegi di Jalan Yos Sudarso, Way Lunik, Panjang, Bandar Lampung.

Bahkan Sonny Zainhard Utama sempat menyewa alat berat untuk melakukan perusakan pagar tembok berbahan material batu bata dan batako.

Material tersebut disimpan di dekat objek pagar yang telah dirusak, yang rencananya untuk pembangunan tembok pada bidang tanah hasil reklamasi milik PT Sekar Kanaka Langgeng.

“Pagar tersebut rusak akibat dilakukan pembongkaran yang diduga dilakukan oleh SDU dan dua orang rekannya dengan cara menyewa dan menyuruh orang lain menggunakan satu unit alat berat jenis eskavator,” ujar Rahmat.

“Akibat perusakan tersebut, pelapor mengalami kerugian materil senilai Rp 30 juta,” imbuhnya.

Selain Sony, polisi menetapkan dua tersangka lain yakni Roliman Sitanggang dan Khairul Taufik.

Penetapan ketiga tersangka tersebut setelah polisi mendapat laporan dari seseorang bernama Andreas Yodeswa dengan nomor laporan polisi nomor LP/B/572/VI/2022/SPKT/Polda Lampung, tanggal 3 juni 2022.

“SZU merupakan tersangka utama yang menyewa alat berat eskavator untuk melakukan pengrusakan,” ujar Rahmat Hidayat.

“Sedangkan RS dan KT berperat membantu bersama-sama melakukan pengrusakan pagar tersebut,” imbuhnya.

Rahmat melanjutkan, tersangka utama Sonny kini telah ditahan di Mapolda Lampung.

Sementara dua orang tersangka lain belum dilakukan penahanan dengan alasan sakit dan tidak memenuhi panggilan.

“Tersangka RS belum dilakukan penahanan karena kemarin saat pemeriksaan dia mengalami sakit dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit,” ujar Rahmat.

“Untuk tersangka KT, kami sudah melakukan dua kali panggilan kepada yang bersangkutan tapi belum ada tanggapan,”

Jika KT tiga kali tidak memenuhi panggilan polda lanjut Rahmat, maka pihaknya akan menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap tersangka.

Akibat perbuatannya, para tersangka terancam dijerat Pasal 170 KUHP JO Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 406 KUHP JO Pasal 55 Ayat (1) KE-1 KUHP.

Adapun sejumlah barang bukti yang dikut diamankan dari tersangka yakni, flashdisk berisi CCTV perusakan, batako, nota batako senilai Rp 35 juta, serta sejumlah berkas pendukung lainnya. (tbc)