Jokowi Optimis Harga Beras Turun di Bulan Maret

Ilo
Ilo | Berita Utama
oleh

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimis pasokan beras nasional bakal melimpah. Stok beras melimpah diiringi dengan permintaan yang stabil akan mendorong turunnya harga beras.

“Sehingga kalau produksi dari petani, dari panen ada, artinya stoknya melimpah. Kalau stok melimpah, permintaan tetap, artinya harga secara otomatis akan turun,” kata Jokowi dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (19/2).

Adapun masa panen raya padi diprediksi terjadi akhir Februari dan awal Maret 2023. Menurut Jokowi hasil dari panen raya ini akan mendongkrak jumlah stok beras.

“Ini akan disusul oleh panen di akhir Februari, awal Maret udah mulai panen. Mungkin secara nasional di Februari 1 jutaan (ton). Nanti di bulan Maret 1,9 jutaan (ton),” lanjutnya.

Sementara itu, meski Perum Bulog Divisi Regional Lampung hingga saat ini telah menyalurkan 8.507 ton beras melalui operasi pasar atau Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), harga beras di pasaran saat ini masih terus mengalami kenaikan, yang mencapai Rp1000 hingga Rp2000 per kilogramnya.

“Belum ada penurunan harga, malah semua jenis beras naik yang biasanya kita jual eceran Rp11 ribu sekarang sudah Rp12 ribu per kilogramnya,” ujar Lia, seorang pedagang beras di Pasar Tempel Sukarame.

Lia mengaku, harga beras yang terus mengalami kenaikan di semua merek beras ini terjadi sejak awal Januari kemarin.

“Sementara beras yang didistribusikan oleh Bulog kita tidak dapat, karena tidak masuk pendataan dari Bulog sendiri,” kata dia.

Dengan adanya kenaikan harga beras tersebut, ia juga menyampaikan hal ini sangat berpengaruh dengan pemasukannya.

“Yang biasanya orang beli banyak ini hanya dikit, seperti beli yang 25 Kg ini mereka paling hanya 5 kg. Yang penting cukup untuk seminggu,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan, Karyono (50) salah satu pedagang beras di Pasar Pasir Gintung. Menurutnya, kenaikan terjadi ketika usai Nataru 2023, yang mana kenaikannya mencapai Rp2000 perkilogramnya.

“Kita memperoleh semua merek beras ini dari agen yang mengantar. Sementara beras dari Bulog kita tidak ada,” jelasnya.

Karyono menyampaikan, adanya kenaikan harga beras ini untuk para pembelinya sendiri belum ada pengaruhnya, mereka tetap membeli karena memang ini merupakan kebutuhan pokok.

“Cuma ada penurunan omset saja yang biasanya dapat sekian, ini turun karena biaya pengeluarannya lebih besar,” ucapnya.

Sementara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Bandar Lampung, l Kadek Sumartha mengatakan, penyaluran beras Medium SPHP oleh Bulog ini untuk menstabilkan harga beras di pasaran.

Di Bandar Lampung sendiri jelasnya, stabilisasi harga setiap hari dilakukan oleh Bulog dari tanggal 1-28 Februari 2023 di 20 kecamatan se kota Bandar Lampung.

“Hal ini dilakukan agar harga beras jangan sampai terlalu menjulang tinggi. Yang ini menyababkan inflasi tinggi dan daya beli masyarakat akan berkurang. Mudah-mudahan dengan SPHP ini daya beli masyarakat stabil dan bisa menekan lonjakan inflasi di Bandar Lampung,” ungkapnya.

Menurut Kadek, kenaikan beras berkisar antara Rp1500 hingga Rp2000 per Kilogram dari semua jenis merek beras, kenaikan ini terjadi pasca nataru hingga saat ini, tapi sebentar panen raya maka harga beras akan kembali normal.

Menurutnya, salah satu upaya agar harga berastidak terlalu mahal, maka pemerintah pusat mengadakan impor beras untuk stabilisasi harga.

“Yang itu juga disalurkan oleh Bulog ke masing-masing daerah termasuk Bandar Lampung. Kita setiap harinya hampir mendapatkan distribusi 4 sampai 5 ton beras. Itu ada daftarnya setiap kecamatan, sehingga kami juga melakukan pendampingan serta pengawasan untuk stabilisasi harga ini,” kata dia.

Adapun harga beras yang dijual oleh Bulog ke masyarakat adalah beras medium dengan harga Rp9400 per kilogram nya.

“Masyarakat yang memperoleh beras dari Bulog ini juga dibatasi, yaitu hanya boleh membeli 2 paket beras saja, per paketnya isi 5 kg,” tandasnya. (dtc)