Pegawai Honorer pun Bisa Raup Cuan Hingga Ratusan Juta dari PMB Unila, Hakim Geleng-geleng Kepala

Ilo
Ilo | Berita Utama
oleh

BANDAR LAMPUNG – Penerimaan mahasiswa baru ternyata menjadi ladang mengeruk uang. Tak cuma pejabat, sekelas pegawai honorer pun bisa meraup uang dalam jumlah besar.

Hal itu diketahui dari keterangan saksi-saksi dalam sidang suap PMB Universitas Lampung (Unila) jalur mandiri 2022, Karomani CS di PN Tipikor Tanjung Karang, Selasa (24/1/2023).

Pegawai honorer di Unila yang dijadikan saksi, Fajar Pramukti mengaku setor Rp325 juta kepada mantan Ketua Senat Unila, M. Basri untuk meloloskan seorang calon mahasiswi.

Di sidang yang sama, orangtua si mahasiswi, Fery Antonius malah mengaku menyerahkan uang Rp460 juta agar puterinya lolos di Fakultas Kedokteran Unila. Itu artinya Fajar Pramukti mendulang untung hingga Rp135 juta dari seorang calon mahasiswa.

Baca Juga  THR & Gaji ke-13 PNS Tahun 2024 Bakal Dibayar 100 Persen

Hal ini lah yang membuat majelis hakim geleng-geleng kepala

Ketua Majelis Hakim, Lingga Setiawan bahkan meminta KPK segera bertindak soal perbedaan keterangan saksi yang saling bertentangan.

Dalam kesaksiannya, Feri Antonius mengaku dikenalkan dengan saksi Fajar melalui tetangganya bernama Fauzan. Ia menceritakan awal mulanya saksi Fajar meminta bantuan agar sang adik dapat diterima magang di salah satu kantor pengacara di Bandar Lampung.

Kemudian, keduanya melakukan pertemuan dan diungkap saksi Fajar dapat membantu dan menjamin kelulusan sang putri Feri Antonius untuk masuk Fakultas Kedokteran Unila.

Terlebih saksi Fajar mengaku memiliki kakak yang bekerja di Kantor Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Baca Juga  193 Juta Orang Mudik pada Lebaran 2024, Puncaknya di 8 April

Fery Antonius kemudian menyerahkan uang cash senilai Rp 450 juta. Tak hanya itu, dirinya turut menyerahkan uang tambahan senilai Rp 10 juta rupiah, sebagai ongkos jalan saksi Fajar guna menemui sang kakak yang disebut bekerja di kantor Dikti, Jakarta.

“Langsung hari itu ( penyerahan uang Rp460 juta), setelah saya diskusi dengan anak istri,”ujarnya.

Lalu, Fery menjelaskan bahwa Fajar juga sempat melayangkan nada ancaman bahwa besar kemungkinan nilai tes sang anak MA dapat digeser alias tidak diluluskan.

Dirinya pun berdalih, pemberian uang tersebut demi memenuhi keinginan dan cita-cita sang anak hendak menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran.

“Saya sempat bertanya, mahal amat sih Jar (Rp450 juta)?” Ujar Anton.

Baca Juga  THR & Gaji ke-13 PNS Tahun 2024 Bakal Dibayar 100 Persen

“Setelah tawar menawar tidak bisa, dikatakan kalau tidak mau dikasih ke yang lain,” tambahnya.

Mendengar keterangan saksi yang saling bertentangan ini, Ketua Majelis Hakim Lingga Setiawan menilai seharusnya ada tindak lanjut dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Kalau ada keadaan yang sama, peristiwa yang sama, tempat yang sama, tapi terdapat perbedaan (kesaksian), salah satu bohong. Majelis imbau mengakulah. Mestinya ada tindak lanjut dari KPK, apalagi melihat tingkah lakunya (Fajar) di sidang,” kata Lingga.

“Sudah ada main-main ini, ada yang ‘berselancar’ di (perkara) sini, sepertinya KPK mesti bertindak, silahkan ditindak, ini sekaligus jangan ada tebang pilih di KPK. Kemarin majelis hakim sudah menghukum pemberi suap,” kata Lingga. (kpt)