Pengacara Andi Desfiandi Korek Nama Musa Ahmad dalam Sidang Suap Unila, ini Jawaban M. Basri

Ilo
Ilo | Hukum
oleh

BANDAR LAMPUNG – Sidang dugaan suap dalam penerimaan mahasiswa Unila dengan terdakwa Andi Desfiandi kembali digelar di Pengadilan Tipikor Bandar Lampung, Rabu (14/12/2022).

Dalam sidang itu, nama Bupati Lampung Tengah Musa Ahmad kembali disebut-sebut dalam sidang.

Adalah Penasehat Hukum Andi Desfiandi, Ahmad Handoko, yang menanyakan soal Musa Ahmad kepada Ketua Senat Unila (nonaktif) Muhammad Basri yang dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan tersebut.

“Apakah saudara saksi mengetahui titipan Bupati Musa Ahmad, termasuk dugaan nominal uang yang diserahkan?,” tanya Handoko.

“Saya tidak tahu,” jawab M. Basri.

Usai persidangan, Muhammad Basri mengakui mahasiswa titipan Bupati Musa Ahmad yang disebut saat persidangan hanya diminta untuk diluluskan ke Fakultas Hukum Unila.

“Iya itu hanya fakultas hukum, nitip biasa, artinya tidak ada sama sekali dugaan penyerahan atau permintaan uang,” ucap M. Basri sembari meninggalkan ruang persidangan.

Sementara Ahmad Handoko mengatakan, pertanyaannya soal Musa Ahmad di dalam sidang hanya untuk mempertegas.  Hal ini juga mengacu pada isi berita acara pemeriksaan (BAP) tersangka Prof Heryandi, dimana disebutkan Musa Ahmad ikut menitipkan mahasiswa sekaligus memberikan uang.

“Sebenarnya ada tidak penerimaan uang atau pemberian uang dari Pak Musa, ternyata tidak ada. Kemudian kenapa kami tanyakan tadi, karena ada korelasi dengan Pak Andi. Artinya biar tidak menjadi fitnah atau isu liar, karena ada dalam BAP makanya kemarin dipanggil semua,” jelasnya.

Lalu, Handoko mengatakan fakta dalam BAP Heryandi tersebut jelas berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi pada terdakwa Andi Desfiandi.

“Kalau di BAP Pak Basri dan Prof Heryandi, seolah-olah ada permintaan di awal. Ini seperti ucapan terima kasih dan sebagainya, yang kami takutkan seperti itu makanya tadi kami konfirmasi saya tanyakan,” ujarnya.

“Kalau di kami, Pak Andi, memang ada pemberian uang tapi tidak ada kesepakatan di awal dan permintaan di awal. Itu setelah lulus baru disuruh menyumbang, artinya sukarela,” tambahnya.

Fee Ratusan Juta

Sementara dalam sidang Ketua Senat Unila (nonaktif) M. Basri mengakui ada tiga orang yang ‘titip' calon mahasiswa pada dirinya. Dari ketiga orang itu terkumpul uang ‘Terima Kasih' sebanyak Rp780 juta. Dan ia mendapatkan fee sebanyak Rp150 juta.

Hal itu diungkapkan M. Basri saat menjadi saksi terdakwa Andi Desfiandi dalam sidang dugaan suap penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri Universitas Lampung (Unila) 2022 di , Rabu (14/12/2022).

“Uang tersebut saya serahkan seluruhnya kepada Warek 1 Unila Prof Heryandi. Saya tidak pernah ke Prof. Karomani,” ujarnya.

Dari Rp780 juta rupiah tersebut, Basri mengaku mendapatkan Rp150 juta.

“Uangnya diterima H-1 pengumuman, karena sudah mendapatkan informasi dari Prof Heryandi ketiganya lulus,” kata dia.

Selain M. Basri, JPU KPK menghadirkan empat saksi lainnya. Di antaranya, Agus Faisal staf di Rektorat Unila dan Fajar Riandi, Satpam Yayasan Alfian Husein dan berjaga di rumah Ary Meizari Alfian.

Kemudian, Helmi Yusuf, paman mahasiswa Kedokteran Unila ZAL dan Lis Yulianti, Kepala Divisi Manajemen Resiko Bank Lampung, keponakan kandung Andi Desfiandi dan orang tua mahasiswa Kedokteran Unila ZAG. (kpt/rl/rmc)